AFP/JOHANNES EISELE
Para pekerja sedang memasang poster logo Olimpiade di venue
Olimpiade London 2012 di ExCel, Selasa (24/7/2012), tiga hari jelang
pembukaan, Jumat (27/7/2012).
Olimpiade 2012 di
London, Inggris, menghadapi dilema dan tantangan besar, yakni bertanding
ketika menjalani kewajiban untuk berpuasa.
Pelari maraton
Yordania, Methkal Abu Drais, mempersiapkan diri untuk bertanding di
kompetisi terbesar sepanjang hidupnya, yakni Olimpiade. Tetapi, ia harus
melakukan hal itu di bulan Ramadan, bulan puasa bagi umat Muslim.
"Setelah
saya tiba di London, saya mencoba untuk berlatih. Namun, saya menyadari
itu sangat, sangat sulit, sebab saya ambil bagian dalam lomba lari yang
membutuhkan banyak energi," ucapnya kepada AFP.
Ini adalah dilema
yang dihadapi sekitar 3.500 atlet Muslim di London 2012. Perhelatan
olahraga terakbar sedunia ini bertepatan dengan bulan Ramadhan. Pada
bulan itu, umat Muslim menjalani ibadah puasa, yakni tidak makan, minum,
dan melakukan hubungan seksual sejak subuh hingga matahari terbenam.
Banyak
negara Islam yang memberi atlet-atlet mereka dispensasi khusus untuk
menunda puasa selama Olimpiade. Hal ini untuk membantu mereka menjaga
stamina, kekuatan selama bertanding.
Namun banyak atlet yang tetap menegaskan komitmen mereka tetap berpuasa.
Tim
sepak bola putra Maroko, misalnya, telah berikrar tetap berpuasa selama
Olimpiade, meski pelatih mereka, Pim Verbeek, dari Belanda, meminta
mereka menangguhkan puasa Ramadhan.
"Kami harus berpuasa karena
ini adalah kewajiban, dan saya pikir Tuhan akan membantu kami pada
hari-hari pertandingan," kata kiper Maroko, Yassine Bounou.
"Kami terbiasa bermain saat Ramadhan, dan itu tidak akan memberi dampak negatif pada kami."
Pada cabang olahraga judo, pejudo Uni Emirat Arab, Hamid Alderei, mengatakan, ia hanya berlatih setelah berbuka puasa.
Sementara
itu, anggota tim judo Niger, Zakari Gourouza, adalah satu-satunya
anggota tim yang tidak berpuasa Ramadhan. "Lima (pejudo) yang lain akan
berpuasa karena mereka berada di sini hanya untuk berpartisipasi. Mereka
tidak berniat memenangi medali, dan berpuasa merupakan prioritas bagi
kami," papar pedayung Niger, Hamadou Djibo Issaka.
Pelatih tinju Maroko, Abdel Hag Achic, mengatakan, ia sempat kesulitan untuk membujuk atletnya untuk tidak berpuasa.
"Kami
tidak ingin terlihat seperti diktator. Kami memberi mereka dua atau
tiga hari untuk mencoba berlatih sambil berpuasa. Namun setelah itu,
mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat melakukannya, sehingga mereka
menerima keputusan itu," ucapnya.
"Tinju sangat berat, dan kami
perlu berlatih dua kali sehari. Ini dapat dilakukan para atlet (sambil
berpuasa). Mereka kehilangan banyak energi, sehingga mereka harus makan
agar memiliki persiapan yang bagus untuk kompetisi. Kami berbicara ke
semua atlet dan kami mengatakan kepada mereka, bahwa mereka perlu makan
agar dapat berkompetisi," sambungnya.
"Setelah melakukan
pembicaraan dengan mereka selama tiga, mereka memutuskan tidak berpuasa.
Sulit bagi mereka untuk menerima keputusan ini, sebab mereka merupakan
Muslim, namun tidak ada solusi lain jika mereka ingin bersaing merebut
medali."
Menurut ketentuan Al-Quran, umat Islam dapat terhindar
dari kewajiban berpuasa jika mereka sakit atau sedang bepergian,
sehingga para atlet yang mengunjungi London dapat menunda ritual mereka
tanpa harus merasa bersalah.
Sejumlah kontingen melakukan
konsultasi sebelum pergi ke London; sebagian negara bahkan mencoba
mengganti jadwal pelaksanaan Ramadhan agar tidak bentrok dengan
Olimpiade.
"Kontingen telah bertemu dengan mufti sebelum menuju
London. Ia berkata bahwa mereka sedang melakukan perjalanan, dan Tuhan
akan memfasilitasi segalanya untuk Anda," ucap pemimpin kontingen Mesir,
Aladdin Jabar.
"Ia memberi mereka izin untuk makan. Dan sekarang semuanya terserah pada para atlet."
Hassan
Rifaat, koordinator umum Uni Emirat Arab, mengatakan, setiap anggota
tim diberi kesempatan untuk menentukan apakah mereka akan berpuasa atau
tidak.
"Ada beberapa atlet yang berpuasa, dan sebagian
lainnya memutuskan tidak berpuasa. Tidak ada instruksi resmi dari Komite
Olimpiade Emirat tentang hal itu," ucapnya.
"Semua atlet melakukan apa yang nyaman dengannya. Itu tergantung kondisi mereka."
Atlet
layar pertama Mesir, Ahmed Habash, menuturkan permasalahan puasa bagi
dirinya adalah karena di negaranya, Matahari terbenam pada pukul 7
malam.
"Sementara di Inggris, Matahari terbenam pada pukul 9 malam. Sepanjang lomba, saya tidak akan berpuasa," ucapnya.
Para atlet Muslim juga disediakan buku bacaan doa, ruang untuk shalat, dan makanan halal di perkampungan atlet.
"Panitia
Olimpiade tahu ini adalah bulan Ramadhan, dan mereka mempersiapkan
segalanya untuk itu. Mereka bahkan menyediakan makanan halal," kata
Habash.
Source : Antara